Surabaya, September 2021 – Permasalahan sampah merupakan permasalahan bagi seluruh kota di Indonesia, salah satunya Kota Surabaya. Berdasar data di tahun 2020, sampah yang terkumpul dalam satu hari di Kota Surabaya bisa mencapai 1000 ton. Tentu pemerintah kota tidak bisa bergerak sendiri dalam mengatasi hal ini, karena permasalahan sampah dapat dilihat dari tiga aspek yaitu aspek lingkungan, sosial, dan juga kesehatan. Aspek lingkungan tentu memberikan dampak terbesar, dikarenakan lingkungan yang terdapat banyak sampah menurunkan tingkat estetika dari daerah tersebut dan juga dapat berdampak pada Kesehatan warga sekitar. Aspek sosial juga memegang peranan penting karena tanggung jawab dalam Pengolahan Bank Sampah merupakan tanggung jawab Bersama.

Melihat permasalah terhadap sampah tersebut, Tim pengabdian kepada masyarat yang diketuai oleh Rahaditya Dimas, yang beranggotakan Abduh Sayyid Albana, dan Ayu Endah Wahyuni melakukan penelusuran di masyarakat, “Kami menyadari permasalahan sampah ini harus tertangani dengan baik, melihat hal tersebut kami mulai melakukan pencarian daerah di Surabaya lokasi penduduk yang dapat mendukung kegiatan Pengolahan Bank Sampah.”

Salah satu lokasi yang dikunjungi tim ITTelkom Surabaya yakni RW 06 Bulaksari yang secara aktif terlibat dalam program pengelolaan sampah melalui kegiatan yang dilakukan secara regular yang dikenal dengan kegiatan Bank Sampah.  Kegiatan ini dilakukan guna menekan limbah rumah tangga yang dapat mencapai 1,6 ton per harinya. Kegiatan Pengolahan Bank Sampah di RW06 Bulaksari merupakan kegaitan sortir sampah air minum dalam kemasan (AMDK) yang berbahan dasar plastic untuk digolongkan dan dikumpulkan dalam satu karung besar untuk kemudian di jual ke pengepul. Pengepul akan memberikan kompensasi sebesar Rp 1.000 per 1 kilogram sampah.

“Saat kami kunjungan, kami melihat fakta bahwa kegiatan Bank Sampah ini dilakukan oleh para ibu-ibu rumah tangga dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak ergonomis. Para ibu-ibu rumah tangga tersebut melakukan sortir sampah menggunakan mini stool yang tidak terdapat sandaran punggung, kemudian untuk pembersihan menggunakan alat potong, para ibu-ibu tersebut tidak menggunakan alat pelindung tangan. Terakhir untuk pengarungan juga tidak ada alat bantu untuk memudahkan proses tersebut diakukan.” Jelas Adit.

Berdasarkan kondisi tersebut Tim pengabdian masyarakat ITTelkom Surabaya membuat workbench ergonomis untuk membantu aktivitas bank sampah. Alat yang dibuat adalah dengan membuat meja kerja yang mengakomodasi empat kegiatan sekaligus, yaitu kegiatan pemilahan sampah AMDK, pembersihan sampah AMDK dari sisa label pabrikan, press untuk meratakan botol plastik, hingga pengarungan.

“Penyerahan alat sudah dilakukan bertempat di Balai RW06 Bulaksari yang dihadiri langsung oleh Bapak Zaenal Ishom selaku ketua RW dan perwakilan ibu-ibu penggiat bank sampah di lingkungan RW06. Dari kegaitan tersebut, ketua RW dan ibu-ibu penggiat sampah menyambut positif dari alat yang dirancang oleh Dosen dari Institut Teknologi Telkom Surabaya dan memberikan masukan untuk membuat alat semakin baik. Diharapkan alat tersebut dapat dibuat lebih banyak agar lebih banyak pula penggiat aktivitas bank sampah yang tertolong guna mendukung program Zero Waste Surabaya.” imbuh Adit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *